Analisis Peran Modal Sosial dalam Pelestarian Budaya Karapan Sapi di Kecamatan Sampang Kabupaten Sampang

  • Novianto Yoga Wibisono Universitas Sebelas Maret, Jl. Ir. Sutami No.36 Jebres, Surakarta, Jawa Tengah, Indonesia
  • Eny Lestari Universitas Sebelas Maret, Jl. Ir. Sutami No.36 Jebres, Surakarta, Jawa Tengah, Indonesia
  • Dwiningtyas Padmaningrum1 Universitas Sebelas Maret, Jl. Ir. Sutami No.36 Jebres, Surakarta, Jawa Tengah, Indonesia
Keywords: modal sosial, karapan sapi, jaringan sosial, kepercayaan, norma

Abstract

Karapan sapi menjadi budaya di Pulau Madura yang mengalami gejolak. Karapan sapi melibatkan modal sosial di dalamnya. Modal sosial dipahami sebagai aset kolektif yang terdiri atas jaringan sosial, kepercayaan, dan norma, yang memungkinkan terjadinya kerja sama dalam masyarakat. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif, dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Informan dalam penelitian meliputi pemilik sapi, pelatih, joki, tokoh adat, dan masyarakat pendukung karapan sapi. Hasil penelitian menunjukkan terdapat tiga elemen penting modal sosial yang terjadi. Jaringan sosial memainkan peran penting dalam memobilisasi partisipasi masyarakat, sementara kepercayaan menjadi landasan bagi proses pewarisan keterampilan budaya dari generasi tua ke generasi muda. Norma sosial berfungsi menjaga kohesi komunitas melalui nilai-nilai kolektif yang diwariskan secara turun-temurun. Di sisi lain, pemanfaatan modal sosial dalam pelestarian budaya menghadapi berbagai tantangan, baik internal, eksternal, maupun keberlanjutan. Tantangan internal mencakup persaingan antarkelompok dan erosi kepercayaan akibat komersialisasi serta praktik perjudian. Tantangan eksternal meliputi tekanan dari pariwisata dan komodifikasi budaya yang mengancam otentisitas tradisi. Sementara itu, tantangan keberlanjutan muncul akibat pergeseran nilai dan minat generasi muda terhadap budaya lokal. Temuan ini menegaskan bahwa keberhasilan pelestarian Karapan Sapi sangat bergantung pada kemampuan masyarakat dalam mengelola dan memperkuat elemen-elemen modal sosial secara berkelanjutan.

References

[1] Abdullah, A., Asshiddiqi, A. R., Arviandi, F., Isnaini, R., Meilani, T., & Antonia, V. J. (2024). Pengaruh Globalisasi terhadap Budaya Indonesia serta Tantangan dalam Mempertahankan Rasa Nasionalisme. JIIC, 1(10), 686-687.
[2] Baycan, T., & Öner, Ö. (2023). The Dark Side of Social Capital: A Contextual Perspective. The Annals of Regional Science, 70(1), 779–798.
[3] Bungin, B. (2012). Analisa Data Penelitian Kualitatif. Jakarta: Rajawali Pers.
[4] De Jonge, H. (1990). Of Bulls and Men: The Madurese Aduan Sapi. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, 146(4), 423-447.
[5] Fukuyama, F. (2000). Social Capital, Civil Society and Development. Third World Quarterly, 22(1), 7-20.
[6] Lesser, E. (2000). Knowledge and Social Capital: Foundation and Application. Boston: Butterworth-Heinemann.
[7] Miles, M., & Huberman, A. M. (2014). Analisis Data Kualitatif: Buku Sumber Tentang Metode-Metode Baru. Jakarta: UI Press.
[8] Moleong, L. J. (2012). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Rosdakarya.
[9] Putnam, R. D. (1993). The Prosperous Community: Social Capital and Public Life. The American Prospect, 14(13), 35–42.
[10] Sari, I. P., & Nugroho, K. (2024). Revitalisasi Ritual Adat Melalui Modal Sosial Komunitas di Desa Adat Wae Rebo. Jurnal Masyarakat & Budaya, 26(1), 45-60.
[11] Solikatun, S., Wijayanti, I., & Komalasari, M. A. (2021). Integrasi Alam dan Budaya Lokal Masyarakat Adat Sembalun Lawang. SANGKÉP: Jurnal Kajian Sosial Keagamaan, 4(1), 117-128.
[12] Sugiyono. (2018). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.
[13] Wiswalujo, B. (2011). Pemetaan Media Tradisional Komunikatif: Lestarikan Tradisi Kelola Komunikasi. Jakarta: Kominfo.